Allergic rhinitis is a risk factor for chronic benign suppurative otitis media

Allergic rhinitis is a risk factor for chronic benign suppurative otitis media

Tutie Ferika Utami1, Kartono Sudarman1, Bambang Udji Djoko Rianto1, Anton Christanto

Abstract
Background. Chronic benign suppurative otitis media (CBSOM) is a disease which can be seen throughout developing countries especially Indonesia. The prevalence of CBSOM in Indonesia is 2,1 – 5,2% of the population. If the management of this disease is inadequate this will cause deafness, social environmental isolation, decrease in prestige and productivity, even causing handicap and death due to complications due to the disease process. A large percentage of chronic otitis media is still difficult to cure. Doctors usually assume that all inflammation is caused by bacterial infections. Thus, antibiotics are generally prescribed for the failure of treatment. For recurrent inflammation there is a possibility in the presence of allergic rhinitis as the main cause thus allergic rhinitis as a cause for CBSOM cannot be overlooked.
Objective. This research is to study the presence of allergic rhinitis has a risk factor in patients suffering from CBSOM.
Method and Material. This research applies a case – control design. Patients with CBSOM, as the research subject, at the ENT polyclinic of Dr. Sardjito Hospital as the case group and patients without ear complaints as the control group. The subjects are inspected whether to have a risk factor to suffer from allergic rhinitis through history taking, anterior rhinoscopic examination and a skin prick test. Data analysis implemented in this research is the X2 test which evaluates the characteristic difference of both groups and logistic regression analysis to evaluate the variables affecting CBSOM.
Results. A total number of 100 research subjects with 50 patients as a case group and 50 patients as a control group underwent allergic rhinitis diagnosis. Forty patients (80%) from the case group were positive for allergic rhinitis and 8 patients (16%) from the control group were positive for allergic rhinitis. There is a significant difference in both groups (p = 0,001) which shows allergic rhinitis as a risk factor for CBSOM. The risk of suffering CBSOM is 21 times more frequent for patients suffering from allergic rhinitis compared to patients not suffering from allergic rhinitis with the OR = 21, IK = 95% : 7,53% – 58,56%, which indicates that allergic rhinitis strongly affects CBSOM.
Conclusion. The results from this research show that allergic rhinitis is a risk factor for CBSOM.

Key words: CBSOM, allergic rhinitis, risk factor
———————————————
1. Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Department, Faculty of Medicine
Gadjah Mada University/Dr.Sardjito Hospital.

LATAR BELAKANG
Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah radang kronik telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul.1 OMSK juga merupakan peradangan akibat infeksi mukoperiosteum kavitas timpani yang ditandai oleh perforasi membran timpani dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul selama lebih dari 3 bulan dan dapat menyebabkan perubahan patologik yang permanen.2 Ada juga yang memberi batas waktu 6 minggu untuk terjadinya awal proses kronisitas pada OMSK.3 Sekret yang keluar mungkin serosa, mukus atau purulen.1,2,3,4
OMSK secara klasik dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu otitis media supuratif kronik tipe beligna (OMSKB) atau tipe tubotimpanum atau tipe safe dan tipe maligna, atau tipe atikoantral atau tipe unsafe. OMSKB dibagi menjadi tipe aktif, tipe laten dan tipe inaktif. Pada OMSKB tipe laten pada saat pemeriksaan kavum timpani kering setelah mendapat pengobatan, akan tetapi sebelumnya ada riwayat otore yang hilang timbul. Pada OMSKB inaktif bila didapatkan riwayat otore dimasa lalu dan pada saat pemeriksaan kavum timpani kering tanpa kemungkinan kekambuhan dalam waktu dekat. Pada otitis media supuratif tipe benigna proses infeksi hanya terbatas pada mukosa telinga tengah saja dan bagian telinga tengah yang terkena adalah mesotimpanun dan hipotimpanum serta tuba auditoria. Tipe ini jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya.5
Prevalensi OMSKB di negara berkembang berkisar antara 5 – 10% , sedangkan di negara maju 0,5 – 2%.6 Diperkirakan sekitar 10 juta penduduk Indonesia menderita OMSKB.7 Survei Nasional Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran tahun 1994 – 1996 menunjukkan prevalensi OMSKB antara 2,10 – 5,2%.8 Frekuensi OMSKB di RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tahun 1989 sebesar 15,21%.9 Di RS Hasan Sadikin Bandung dilaporkan frekuensi OMSKB selama periode 1988 – 1990 sebesar 15,7% 10 dan pada tahun 1991 dilaporkan prevelensi OMSKB sebesar 10,96%.11
Frekuensi penderita OMSKB di RS Dr Sardjito Yogyakarta pada tahun 1997 sebesar 8,2%.12 Data dari catatan medis kunjungan kasus baru penderita OMSKB di RS Sardjito tahun 2002 adalah 460 orang, sedangkan jumlah seluruh kunjungan di poliklinik THT pada tahun tersebut adalah 13.524 orang, maka frekuensi OMSKB adalah 3,4%.13
Beberapa pendapat menyebutkan bahwa faktor predisposisi kronisitas dari otitis media diduga karena: 1) disfungsi tuba auditoria kronik, fokal infeksi seperti sinusitis kronik, adenoiditis kronik dan tonsilitis kronik yang menyebabkan infeksi kronik atau berulang pada saluran napas atas dan selanjutnya mengakibatkan udem serta obstruksi tuba auditoria. Beberapa kelainan seperti hipertrofi adenoid, celah palatum menyebabkan fungsi tuba auditoria terganggu. Gangguan kronik fungsi tuba auditoria menyebabkan proses infeksi di telinga tengah menjadi kronik, 2) perforasi membran timpani yang menetap menyebabkan mukosa telinga tengah selalu berhubungan dengan udara luar. Bakteri yang berasal dari kanalis auditorius eksterna atau dari luar lebih leluasa masuk ke dalam telinga tengah menyebabkan infeksi kronisk pada mukosa telinga tengah.5 3) Bakteri yang resisten terhadap antibiotika, yaitu Pseudomonas aeruginusa dan Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri yang tersering diisolasi pada OMSKB, sebagian besar bakteri tersebut telah resisten terhadap antibiotika yang lazim digunakan. Ketidaktepatan atau terapi yang tidak adekuat menyebabkan kronisitas infeksi.14 4) Faktor konstitusi, alergi merupakan salah satu faktor konstitusi yang dapat menyebabkan kronisitas.
Pada keadaan alergi ditemukan perubahan berupa bertambahnya sel goblet dan berkurangnya sel kolumner bersilia pada mukosa telinga tengah dan tuba auditoria sehingga produksi cairan mukoid bertambah dan efisiensi silia berkurang.15 Penyakit alergi adalah suatu penyimpangan reaksi tubuh terhadap paparan bahan asing yang menimbulkan gejala pada orang yang berbakat atopi sedangkan pada kebanyakan orang tidak menimbulkan reaksi apapun.16
Rinitis alergi adalah suatu gangguan hidung yang disebabkan oleh reaksi peradangan mukosa hidung diperantarai oleh imunoglobulin E (Ig E), setelah terjadi paparan alergen (reaksi hipersensitivitas tipe I Gell dan Comb). Gejala klinik rinitis alergi disebabkan oleh mediator kimia yang dilepaskan oleh sel mast, basofil dan eosinofil akibat reaksi alergen dengan Ig E spesifik yang melekat dipermukaannya. Mediator yang paling banyak diketahui peranannya adalah histamin. Histamin akan menyebabkan hidung gatal, bersin-bersin, rinore cair dan hidung tersumbat.17
Rinitis alergi bersifat kronik dan persisten sehingga dapat menyebabkan perubahan berupa hipertropi dan hiperplasi epitel mukosa dan dapat menimbulkan komplikasi terjadinya otitis media, sinusitis dan polip nasi. Beberapa pendapat menyatakan bahwa pada rinitis alergi edema mukosa yang terjadi selain dikavum nasi juga meluas ke nasofarings dan tuba auditoria sehingga dapat mengganggu pembukaan sinus dan tuba auditoria.17 Prevalensi rinitis alergi di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun data dari beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa rinitis alergi memiliki frekuensi berkisar 10 – 26%.
Penelitian tentang penatalaksanaan OMSKB telah banyak dilakukan. Namun penelitian lebih banyak ditujukan kepada jenis pengobatan seperti apakah perlu antibiotik atau tidak, jenis antibiotik yang dipakai apakah cukup lokal atau sistemik, apakah antibiotika yang diberikan sudah sesuai dengan jenis bakterinya atau belum serta kemungkinan apakah cukup tindakan konservatif atau perlu tindakan operatif saja. Begitu juga penelitian mengenai faktor-faktor yang mendasari patogenesis OMSKB seperti fungsi ventilasi dan drainase dari tuba auditoria dalam hubungannya dengan proses penyembuhan OMSKB.12
Namun penelitian mengenai alergi khususnya rinitis alergi sebagai faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya OMSKB, belum pernah diteliti. Restuti (2006)16 menulis mengenai hubungan alergi dengan otitis media supuratif kronik (OMSK), menyatakan bahwa prevalensi dan patogenesis OMSK dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kekerapan infeksi saluran napas atas, sosioekonomi, gizi, alergi dan faktor imunitas. Sebagai respons alergi terjadi sekresi berbagai mediator dan sitokin yang mempengaruhi terjadinya inflamasi dan kondisi seperti ini dapat berulang hingga kronis. Interleukin-1 (IL-1) merupakan sitokin yang kadarnya tinggi pada pasien-pasien OMSK. Demikian juga tumor necrosis factor-α (TNF-α) yang dihubungkan dengan kronisitas pada otitis media juga memiliki kadar yang tinggi. Selain faktor fungsi tuba, patogenesis OMSK juga dipengaruhi oleh faktor mukosa telinga tengah sebagai target organ alergi. Pada biopsi mukosa telinga tengah didapatkan eosinophilic cationic protein (ECP), IL-5 dan basic major protein (BMP) yang tinggi pada pasien otitis media dengan rinitis alergi dibandingkan dengan pasien otitis media tanpa rinitis alergi.
Sebagian besar otitis media supuratif kronik nampaknya berasal dari otitis media supuratif akut yang berulang, namun beberapa peneliti mengatakan bahwa otitis media kronis mungkin berasal dari otitis media efusi yang terinfeksi sekunder dimana mukosa telinga tengah mengalami hipertrofi dan hipersekresi.6
Penelitian epidemiologi pada beberapa negara memperlihatkan angka diatas 50% pasien otitis media dengan rinitis alergi, dimana 21% pasien rinitis alergi menderita otitis media. Tuba auditoria memegang peranan penting sebagai fungsi regulasi tekanan udara di dalam telinga tengah. Mekanisme ini dihubungkan dengan patofisiologi yang menyebabkan terjadinya obstruksi tuba, terutama akibat infeksi atau inflamasi dari proses alergi. Rinitis dihubungkan sebagai etiologi dari otitis media dengan 2 cara yaitu: disfungsi tuba disebabkan oleh reaksi alergi dari mukosa nasal atau adanya fungsi mucociliar yang terganggu.18

METODE PENELITIAN
Rancangan dan Populasi Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol, dimana studi dimulai
dengan mengidentifikasikan kelompok efek tertentu (kasus) dan kelompok tanpa
efek (kontrol), kemudian secara retrospektif diteliti faktor risiko/ prognosis yang
mungkin dapat menerangkan mengapa kasus terkena efek, sedang kontrol tidak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis /menentukan rinitis alergi sebagai faktor risiko otitis media supuratif kronik benigna (OMSKB), yaitu membandingkan antara pasien OMSKB dengan faktor risiko rinitis (kasus) dan pasien non OMSKB dengan faktor risiko rinitis alergi (kontrol).
Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah semua penderita OMSKB yang berobat ke klinik rawat jalan THT RS Dr. Sardjito Yogyakarta. Pengambilan sampel dengan cara berurutan (consecutive sampling) sampai tercapai jumlah sampel minimal.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Kriteria Inklusi pada penelitian ini untuk kasus : 1) Pasien OMSKB rawat jalan dengan keluhan telinga meler yang berulang atau pernah meler, dan pada pemeriksaan otoskopi didapat cairan/tanpa cairan pada liang telinga, membran timpani perforasi sentral tanpa kolesteatom dan granulasi, dan untuk kontrol : pasien non OMSKB, yang datang ke poli rawat jalan THT, 2) Penderita pria atau wanita umur 5 tahun atau lebih dan kooperatif untuk mengikuti penelitian, 3) Bebas dari obat-obat antihistamin setidaknya selama 7-10 hari, kortikosteroid sistemik dan topikal. Kriteria Eksklusinya : 1) Menderita OMA pada kelompok kontrol, 2) Tidak setuju mengikuti penelitian secara tertulis setelah membaca informed consent

Subyek Penelitian
Subyek yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi setelah sebelumnya menandatangani informed concent tanpa randomisasi dibagi menjadi kelompok kasus dan kelompok kontrol setelah dilakukan anamesa dan pemeriksaan otoskopi. Setiap subyek terpilih selanjutnya sesuai prosedur dikerjakan anamnesa dan pemeriksaan fisik hidung serta pemeriksaan rinoskopi anterior, selanjutnya dilakukan skin prick test bagi sampel yang belum pernah di test.

Jumlah Sampel
Perkiraan besar sampel dihitung menggunakan rumus besar sampel untuk penelitian analitik kategorik tidak berpasangan dengan α yang ditentukan sebesar 5% untuk tingkat kesalahan tipe I, β ditetapkan sebesar 20% untuk kesalahan tipe II; power yang mempunyai nilai (1-β) adalah 80% yang berarti pada penelitian ini mempunyai peluang sebesar 80% untuk mengetahui adanya pengaruh faktor risiko terhadap kasus apabila perbedaan itu ada di populasi, sedangkan Zα untuk menguji hipotesis satu arah adalah sebesar 1,64 dan Zβ sebesar 0,84. Dari kepustakaan didapatkan proporsi pajanan pada kelompok kontrol sebesar 20 %. Dari hasil perhitungan besar sampel minimal, maka jumlah total sampel 98 orang, untuk kelompok kasus adalah 49 orang dan kelompok kontrol 49 orang.
Analisis Statistik
Data yang dianalisis adalah data primer yang diperoleh dari hasil penelitian ini kemudian variabel penelitian dianalisis Data dianalisis dengan uji statistik yang menggunakan program komputer. Data disajikan dalam bentuk tabulasi dan deskripsi statistik. Analisis statistik yang digunakan adalah:
1) Uji X2 untuk menghitung ada tidaknya perbedaan karakteristik kedua kelompok.
2) Analisis regresi logistik, untuk menilai variabel-variabel yang berpengaruh pada otitis media supuratif kronik benigna.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang dilakukan di poliklinik THT RS Dr. Sardjito Yogyakarta dari bulan Juni 2007 sampai dengan bulan Maret 2008 ditemukan 53 penderita OMSKB dan 50 pasien non OMSKB, sebanyak 100 pasien diantaranya yang memenuhi kriteria inklusi penelitian ini, sisanya sebanyak 3 pasien yaitu dari kelompok kasus memenuhi kriteria eksklusi karena tidak bersedia dilakukan skin prick test.
1. Karakteristik demografis subyek penelitian
Tabel 1. Distribusi subyek penelitian menurut umur dan jenis kelamin
Kel.Kasus Kel.Kontrol Total (%) Nilai p
N(%) N(%) (Uji X2)

Umur (tahun)
5 – 15 5(10) 5(10) 10(10)
16 – 25 15(30) 26(52) 41(41) 0,102
26 – 55 26(52) 18(36) 44(44)
≥ 56 4(8) 1(2) 5(5)

Jenis Kelamin
Laki – laki 21(42) 22(44) 43(43)
0,840
Perempuan 29(58) 28(56) 57(57)

Pada penelitian ini usia subyek penelitian dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu 5 – 15 tahun, 16 – 25 tahun, 26 – 55 tahun dan ≥ 56 tahun. Dengan menggunakan uji X2 didapatkan nilai p = 0,102 ( p > 0,05), tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara usia pada kelompok kasus dengan kelompok kontrol pada penelitian ini.
Subyek penelitian pada kelompok kasus yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 21 orang (42%) dan perempuan 29 orang (58%). Pada kelompok kontrol subyek penelitian yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 22 orang (44%) dan perempuan 28 orang (56%). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin subyek pada kelompok kasus dan kelompok kontrol dengan nilai p = 0,840 (p > 0,05); OR: 0,922; IK 95%: 0,41- 2,03. Pada kedua variabel umur dan jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap morbiditas OMSKB.

2. Karakteristik keluhan dan kelainan telinga dan hidung
Tabel 2. Distribusi menurut keluhan dan kelainan telinga dan hidung
Keluhan dan Kel.Kasus Kel.Kontrol Nilai p
Kelainan telinga N(%) N(%) (Uji X2)

Telinga meler 26(52) -
Tidak meler 24(48) 50(100) 0,001

Batuk, pilek 41(82) -
dan demam 0,001
Manipulasi telinga 9(18) –

Kambuh < 3 x/ th 7(14) -
Kambuh ≥ 3 x/th 43(86) – 0,006

Pendengaran menurun 3(6) -
Tidak menurun 47(94) 50(100) 0,079

Perforasi MT 50(100) -
Tidak perforasi MT – 50(100) 0,001

Keluhan dan
Kelainan hidung

Meler, bersin dan 41(82) 9(18)
Tersumbat 0,001
Tidak ada keluhan 9(18) 41(82)

Riwayat atopi (+) 26(52) 1(2)
Riwayat atopi (-) 24(48) 49(98) 0,001

Hipertrofi, livide, 40(80) 4(8)
Discharge sereus,
Shiner dan crease
Tanpa kelainan 10(20) 46(92) 0,001
Terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kasus dan kontrol pada keluhan telinga meler dan tidak meler dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05); OR: 3,08; IK 95%: 2,2 – 4,2. Begitu juga pada keluhan faktor pencetus sebanyak 41 pasien (82%) mengeluhkan adanya batuk, pilek dan demam sebelum keluhan telinga timbul dan sebanyak 9 pasien (18%) karena manipulasi telinga dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05); OR: 6,5; IK 95%: 3,5 – 11,9.
Pada keluhan kekambuhan yang terjadi kurang dari 3 kali per tahun didapat 7 pasien (14%) dan kekambuhan dialami lebih atau sama 3 kali per tahun didapat 43 pasien (86%), terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kasus dan kelompok kontrol dengan nilai p = 0,006 (p 0,05); OR: 2,06; IK 95%: 1,68 – 2,53. Hal ini terjadi pada pasien dengan usia di atas 60 tahun. Sehingga dapat disimpulkan bila keluhan penurunan pendengaran dapat disebabkan karena faktor usia.
Kelainan telinga berupa perforasi membran timpani terjadi pada semua pasien dalam kelompok kasus sebanyak 50 pasien (100%), sedangkan kelompok kontrol tidak terdapat adanya kelainan telinga sebanyak 50 pasien (100%). Terjadi perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05).
Terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol pada ketiga variabel keluhan dan kelainan hidung dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05).

3.Hubungan antara keluhan dan kelainan telinga dan hidung dengan rinitis alergi
Untuk melihat pengaruh keluhan dan kelainan telinga dan hidung terhadap rinitis alergi maka dilakukan pengukuran statistik yang hasilnya terdapat pada tabel 3.

Tabel 3. Hubungan keluhan dan kelainan telinga dan hidung dengan rinitis alergi
Keluhan dan kelainan RA (+) RA (-) Total N(%) Nilai p
Telinga (Uji X2)

Telinga meler 20 6 26(26)
Tidak meler 28 46 74(74) 0,001

Batuk, pilek dan demam 36 5 41(41)
Manipulasi telinga 12 47 59(59) 0,001

Kambuh < 3 x/th 4 3 7(7)
Kambuh ≥ 3 x/th 44 49 93(93) 0,616

Perforasi MT 40 10 50(50)
Tidak perforasi MT 8 42 50(50) 0,001

Keluhan dan kelainan
Hidung

Meler, bersin dan tersumbat 48 2 50(50)
Tanpa keluhan – 50 50(50) 0,001

Riwayat atopi 27 – 27(27)
Tanpa riwayat atopi 21 52 73(73) 0,001

Hipertrofi, livide, discharge
sereus, shiner dan crease 44 – 44(44)
Tanpa kelainan hidung 4 52 56(56) 0,001

Dari hasil pengukuran terdapat perbedaan yang bermakna antara keluhan telinga meler, keluhan didahului dengan batuk, pilek dan demam serta kelainan telinga berupa perforasi membran timpani terhadap rinitis alergi dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara rinitis alergi dengan keluhan kekambuhan baik yang 0,05). Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian Setasubrata (1999)12 dimana tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara frekuensi kekambuhan dengan gangguan fungsi ventilasi nilai p = 0,26 dan drainase dari tuba eustachius dengan nilai p = 0,12 ( p > 0,05).
Hasil pengukuran hubungan keluhan dan kelainan hidung dengan rinitis alergi terdapat perbedaan yang bermakna dengan nilai p = 0,001 ( p < 0,05) pada ketiga variabel disebabkan karena ketiga variabel tersebut merupakan tanda dan gejala dari rinitis alergi. Pasien dengan keluhan hidung meler, bersin-bersin dan tersumbat sebanyak 48 dari 50 pasien. Untuk riwayat atopi ditemukan sebanyak 27 pasien yang rinitis alergi dan tidak ditemukan satupun pasien rinitis alergi negatif. Sedangkan untuk kelainan hidung berupa hipertrofi konka, livide, discharge sereus, shiner dan crease ditemukan sebanyak 44 pasien yang positif rinitis alergi. Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian dari Wratsongko (2004)19 dengan nilai p = 0,001 untuk ketiga variabel tersebut.

4. Hubungan OMSKB terhadap rinitis alergi
Untuk mengetahui rinitis alergi mempunyai pengaruh terhadap kasus (OMSKB) maka dilakukan pengukuran statistik yang hasilnya disajikan dalam tabel 4.
Tabel 4. Hasil pengukuran kedua kelompok penelitian terhadap rinitis alergi
Kasus N(%) Kontrol N(%) Nilai p
Rinitis Alergi 40 (80) 8 (16)
(positif)
0,001
Rinitis Alergi 10 (20) 42 (84)
(negatif)

Total 50 (100) 50 (100)

Hasil pengukuran antara kelompok kasus dan kelompok kontrol terhadap rinitis alergi pada tabel di atas, terdapat 40 pasien (80%) dari kelompok kasus yang positif rinitis alergi dan sebanyak 10 pasien (20%) yang negatif rinitis alergi. Pada kelompok kontrol ditemukan 8 pasien (16%) yang positif rinitis alergi dan sebanyak 42 pasien (84%) yang negatif rinitis alergi. Terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok terhadap rinitis alergi dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05); OR: 21; IK 95%: 7,53 – 58,56. Hal ini menunjukkan bahwa risiko kejadian kasus (OMSKB) adalah 21 kali lebih sering pada orang yang menderita rinitis alergi dibandingkan dengan orang yang tidak menderita rinitis alergi.
Hasil dari penelitian Hurst (2002)20 juga menemukan adanya perbedaan yang bermakna antara pasien otitis media efusi (OME) dengan pasien atopi, nilai p = 0,001 (p 1) yang menandakan bahwa rinitis alergi berperan sebagai faktor risiko terjadinya OME.
5. Analisis regresi logistik
Untuk menganalisis prediksi peluang variabel tergantung terhadap pengaruh variabel-variabel bebas digunakan analisis regresi logistik. Variabel tergantung pada penelitian ini adalah OMSKB, sedangkan variabel bebas yang dianalisis adalah rinitis alergi, keluhan dan kelainan telinga dan keluhan dan kelainan hidung. Setelah dilakukan analisis diperoleh hasil seperti yang tercantum dalam tabel 8.
Tabel 8. Hasil regresi logistik pengaruh variabel terhadap OMSKB
Variabel ß p Adjusted Odd-Ratio IK 95%
Rinitis Alergi 0,080 0,001 21,00 7,53 – 58,56

Keluhan dan kelainan telinga
Batuk, pilek 3,108 0,008 22,38 2,24 – 22,81
dan demam
Manipulasi telinga

Perforasi MT 1,752 0,032 5,76 1,16 – 28,56
Tidak perforasi MT

Telinga meler -1,69 0,135 0,185 0,02 – 1,69
Tidak meler

Keluhan dan kelainan hidung
Meler, bersin dan 13,89 0,894 1083859,7 0,001 – 4,525
Tersumbat

Riwayat atopi (+) 0,001 1,000 1,000 0,001 – 1,024

Hipertrofi, livide, 12,51 0,944 270964,93 0,001 – 2,586
Discharge sereus,
Shiner dan crease

Pada tabel tersebut diatas didapatkan ada tiga variabel yang berhubungan bermakna atau berpengaruh terhadap OMSKB yaitu pada variabel rinitis alergi dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05), OR: 21: IK 95%: 7,53 – 58,56, keluhan telinga diawali dengan batuk, pilek dan demam dengan nilai p = 0,008,OR: 22,38 ; IK 95%: 2,24 – 22,81. Hal ini menunjukkan peluang terjadinya OMSKB lebih besar 22 kali pada pasien dengan faktor pencetus keluhan telinga diawali batuk, pilek dan demam dibandingkan pasien dengan faktor pencetus keluhan telinga tanpa diawali batuk, pilek dan demam, dan kelainan telinga berupa perforasi membran telinga dengan nilai p = 0,032, OR: 5,76 ; IK 95%: 1,16 – 28,56, ini menunjukkan bahwa peluang untuk terjadinya OMSKB adalah 5 kali lebih besar pada pasien dengan perforasi membran timpani dibandingkan pasien tanpa perforasi membran timpani.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa rinitis alergi merupakan faktor risiko pada otitis media supuratif kronik benigna (OMSKB).

SARAN
Dari hasil penelitian membuktikan bahwa rinitis alergi sebagai faktor risiko pada OMSKB sehingga disarankan untuk melakukan pemeriksaan test alergi (skin prick test) dan menegakkan diagnosa rinitis alergi serta memberikan terapi rinitis alergi pada pasien otitis media yang sering berulang untuk menekan angka kejadian OMSKB.

DAFTAR PUSTAKA
1. Helmi. Panduan penatalaksanaan baku otitis media supuratif kronik di Indonesia. Jakarta 2002: 4-13.

2. Paparela MM. Definition and classification of otitis media. Fifth Asia Oceania Congress of Otorhinological Societies 1983: 9-14.

3. Proctor B. Chronic otitis media and mastoiditis. Otolaryngology vol 2. Paparela, MM, Schumrick, DA (eds). WB. Saunders Co. Philadelphia 1973. 138-140.

4. Djaafar ZA. Diagnosis dan pengobatan otitis media supuratif kronik. Pengobatan Non Operatif Otitis Media Supuratif Kronik. Jakarta 1990: 47-56.

5. Mawson SR. Disease of Middle Ear.Disease of the ear. 3rd ed. 1974 Alden and Mombrax ltd. Great Britain.

6. Sedjawidada R. Historia naturalis of media: a scheme resuming the inter relationships between varions form of otitis mediaand their resective surgical interation. ORL Indonesia 1985: 16(3).

7. Boesoirie T. Miringoplasti dini, suatu cara efektif merekonstruksi mekanisme pendengaran konduktif pasca radang kronis telinga tengah. FK UNPAD Bandung. Disertasi 1995: 1-112.

8. Departemen Kesehatan RI. Pedoman upaya kesehatan telinga dan pencegahan gangguan pendengaran untuk puskesmas.1998.

9. Helmi. Perjalanan penyakit dan gambaran klinis otitis media supuratif kronik. Pengobatan non operatif otitis media supuratif. Jakarta 1990:17-30.

10. Boesoirie T. Prevalensi serta pola kepekaan kuman aerob dan anaerob pada otomastoiditonis kronis di RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. FK UNPAD Bandung. Tesis Magister 1992:52-54.

11. Djohar TH. Evaluasi fungsi tuba eusthacius dengan metoda modifikasi inflasi-deflasi dan tetes telinga memakai zat warna pada penderita-penderita otitis media perforata “kering” dewasa. Karya Tulis Akhir 1992 Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung.

12. Setasubrata YD. Peran fungsi ventilasi dan drainase tuba auditoria pada kesembuhan otitis media supuratif kronik benigna aktif. Karya Tulis Akhir 1999: 1-39.

13. Hartanto D. Daya guna klinis amnion sebagai bahan bridge pada penutupan perforasi membran timpani permanen secara konservatif. Karya Tulis Akhir 2004. FK UGM Yogyakarta.
14. Djoko Rianto BU. Effectiveness of ciprofloxacin ear drops vs chloramphenicol ear drops for treating active benign type chronic otitis media. Master of Science in Public Health Thesis.1998 .Yogyakarta Gadjah Mada University.

15. Gladstone HB, Jackler RK, Varav K. Tympanic membrane wound healing: an overview. Otolaryngol Clin North Am 1995.28: 913-932.

16. Restuti RD. Hubungan Alergi dengan Otitis Media Supuratif Kronik. Abstrak Pertemuan Ilmiah Tahunan Otologi I. Jakarta 2006: 31.

17. Putra IGK, Suprihati W. Hubungan antara rinitis kronik alergika dan otitis media dengan efusi. Kumpulan Naskah Ilmiah Kongres PERHATI. Bukit Tinggi 1993.

18. Lazo-Saenz JG, Galvan –Aguilera AA. Eustachian tube dysfunction in allergic rhinitis. Otollaryngol Head Neck Surg 2005.132: 626-631.

19. Wratsongko GT. Uji Diagnostik Skor Rinitis Alergi. Karya Tulis Akhir 2003. FK UGM Yogyakarta.

20. Hurst DS, Venge P. The impact of atopy on neutrophil activity in middle ear effusion from children and adults with chronic otitis media. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 2002.128: 561-566.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: