Kualitas hidup penderita rinosinusitis kronik pasca terapi bedah

The health-related quality of life in patient’s chronic rhinosinusitis after surgery

M.Roikhan Harowi 1, Soepomo Soekardono 1, Bambang Udji Djoko.R 1, Anton Christanto1

Abstract
Chronic rhinosinusitis (CRS) is a group of disorders characterized by inflammation of the mucosa of the nose and paranasal sinuses of at least 12 consecutive weeks duration. Chronic rhinosinusitis has substantial impact on patient’s quality of life. CRS may significantly reduce health related quality of life as a result of nasal obstruction and irritation, lost sense of taste and smell, sleeping difficulties, and persistent cold-like symptoms. Although sinus surgery may reduce the incidence of recurrent infection in patients with chronic sinusitis, little is known about the effect of such surgery on a patient’s quality of life. Endoscopic sinus surgery (ESS) is probably one of the most important therapies for CRS. Improvement following FESS for CRS has been reported as very good, with satisfaction reported in up to 98% of patients. The use of endoscopic sinus surgery (ESS) in the CRS has improved ability to visualize the anatomy and extent of disease using endoscopes. The objective of this study was to compare the health-related quality of life of patients who have been performed conventional sinus surgery with those who have been performed endoscopic sinus surgery.
This was a analytic cross sectional study of patients who have been performed sinonasal surgery. The subjects who have been performed sinus surgery devided into two group, conventional surgery group and endoscopic sinus surgery group. Number of subject would be compared 31 patients for each group. The health-related quality of life would be compared at minimal 6 months after surgery using the Sino-Nasal Outcome Test 20 (SNOT-20). The data have analyzed using X2 test and X2 Mantel Haenzel test to evaluate the characteristic of subject in both groups. There was no significantly difference the characteristic of subject in both groups (p>0,05). There was significantly difference of the patient’s health-related quality of life according to allergy (p=0,001). There was no significantly difference score mean SNOT 20 according to sinonasal surgery group (p>0,05). Analyzed with logistic regresion there was significantly difference of patient’s health-related quality of life according to allergy (p=0,033; adjusted odd ratio 29,433; 95% CI 1,318-657,202) and according to age (p=0,032; adjusted odd ratio 8,030; 95% CI 1,197-53,886). There was no significantly difference of the patient’s health-related-quality of life in chronic rhinosinusitis (CRS) who have been performed endoscopic sinus surgery with those who have been perfomed conventional sinus surgery (p=0,095; 95% CI 0,574-1034,074).
Conclusion : There was no significantly difference of patient’s health-related quality of life according to SNOT 20 in CRS who have been performed endoscopic sinus surgery with those who have been performed conventional sinus surgery.

Keywords : chronic rhinosinusitis, quality of life, SNOT 20, sinonasal surgery
———————————————————
1. Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Departement, Faculty of Medicine Gadjah Mada University/Dr Sardjito Hospital.

THE HEALTH-RELATED QUALITY OF LIFE IN PATIENT’S CHRONIC RHINOSINUSITIS AFTER SURGERY

M.Roikhan Harowi 1, Soepomo Soekardono 1, Bambang Udji Djoko.R 1,Anton Christanto1

Abstract
Chronic rhinosinusitis (CRS) is a group of disorders characterized by inflammation of the mucosa of the nose and paranasal sinuses of at least 12 consecutive weeks duration. Chronic rhinosinusitis has substantial impact on patient’s quality of life. CRS may significantly reduce health related quality of life as a result of nasal obstruction and irritation, lost sense of taste and smell, sleeping difficulties, and persistent cold-like symptoms. Although sinus surgery may reduce the incidence of recurrent infection in patients with chronic sinusitis, little is known about the effect of such surgery on a patient’s quality of life. Endoscopic sinus surgery (ESS) is probably one of the most important therapies for CRS. Improvement following FESS for CRS has been reported as very good, with satisfaction reported in up to 98% of patients. The use of endoscopic sinus surgery (ESS) in the CRS has improved ability to visualize the anatomy and extent of disease using endoscopes. The objective of this study was to compare the health-related quality of life of patients who have been performed conventional sinus surgery with those who have been performed endoscopic sinus surgery.
This was a analytic cross sectional study of patients who have been performed sinonasal surgery. The subjects who have been performed sinus surgery devided into two group, conventional surgery group and endoscopic sinus surgery group. Number of subject would be compared 31 patients for each group. The health-related quality of life would be compared at minimal 6 months after surgery using the Sino-Nasal Outcome Test 20 (SNOT-20). The data have analyzed using X2 test and X2 Mantel Haenzel test to evaluate the characteristic of subject in both groups. There was no significantly difference the characteristic of subject in both groups (p>0,05). There was significantly difference of the patient’s health-related quality of life according to allergy (p=0,001). There was no significantly difference score mean SNOT 20 according to sinonasal surgery group (p>0,05). Analyzed with logistic regresion there was significantly difference of patient’s health-related quality of life according to allergy (p=0,033; adjusted odd ratio 29,433; 95% CI 1,318-657,202) and according to age (p=0,032; adjusted odd ratio 8,030; 95% CI 1,197-53,886). There was no significantly difference of the patient’s health-related-quality of life in chronic rhinosinusitis (CRS) who have been performed endoscopic sinus surgery with those who have been perfomed conventional sinus surgery (p=0,095; 95% CI 0,574-1034,074).
Conclusion : There was no significantly difference of patient’s health-related quality of life according to SNOT 20 in CRS who have been performed endoscopic sinus surgery with those who have been performed conventional sinus surgery.

Keywords : chronic rhinosinusitis, quality of life, SNOT 20, sinonasal surgery
———————————————————
1. Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Departement, Faculty of Medicine Gadjah Mada University/Dr Sardjito Hospital.

Kualitas hidup penderita rinosinusitis kronik pasca terapi bedah

M.Roikhan Harowi 1, Soepomo Soekardono 1, Bambang Udji Djoko.R 1, Anton Christanto1

Intisari

Rinosinusitis kronik (RSK) adalah gangguan yang mempunyai karakteristik adanya peradangan mukosa hidung dan mukosa sinus paranasalis yang berlangsung selama 12 minggu. RSK mempunyai pengaruh penting pada kualitas hidup penderita. RSK secara nyata akan menurunkan kualitas hidup akibat obstruksi hidung dan iritasi, gangguan penghidu, gangguan tidur dan gejala pilek yang peristen. Meskipun terapi bedah dapat mengurangi kejadian rekurensi infeksi pada penderita RSK, namun hanya sedikit diketahui efek terapi bedah pada kualitas hidup penderita. Bedah sinus endoskopi (BSE) adalah salah satu hal penting dalam pengobatan RSK. Perbaikan setelah BSE untuk RSK dilaporkan sangat baik hingga mencapai 98 %. Penggunaan BSE telah memperbaiki kemampuan untuk melihat anatomi dan perluasan penyakit menggunakan endoskopi. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan kualitas hidup penderita RSK yang dilakukan Bedah konvensional dengan yang dilakukan Bedah Sinus Endoskopi.
Penelitian ini menggunakan desain analisis cross sectional pada pasien yang telah dilakukah terapi bedah. Penderita RSK yang telah dilakukan terapi bedah dibedakan menjadi dua kelompok, kelompok bedah konvensional dan kelompok bedah sinus endoskopi. Masing-masing kelompok berjumlah 31 orang. Kualitas hidup dibandingkan pada minimal 6 bulan pasca bedah menggunakan Sinonasal Outcome Test 20. Data di analisis menggunakan uji X2 dan uji X2 Mantel Haenzel untuk mengevaluasi karakteristik subyek untuk masing-masing kelompok. Tidak ada perbedaan karakteristik subyek menurut kelompok terapi (p> 0,05). Ada perbedaan bermakna kualitas hidup menurut riwayat alergi (p=0,001). Tidak ada perbedaan rerata skor masing-masing item SNOT 20 menurut kelompok terapi (p>0,05). Hasil analisis regresi logistik menunjukkan ada perbedaan kualitas hidup menurut umur (p=0,032 95% KI 1,197-53,886) dan menurut riwayat alergi (p=0,033 95% KI 1,318-657,202). Tidak ada perbedaan kualitas hidup penderita RSK antara yang dilakukan bedah konvensional dengan BSE (p=0,095 95% KI 0,574-1034,074)
Kesimpulan : Tidak ada perbedaan kualitas hidup berdasarkan SNOT 20 penderita RSK yang dilakukan bedah sinus endoskopi dibandingkan yang dilakukan bedah konvensional.

Kata kunci : rinosinusitis kronik, kualitas hidup, SNOT 20, terapi bedah sinus
————————————————————-
1. Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung tenggorok dan Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/ RSUP Dr. Sardjito

LATAR BELAKANG.
Rinosinusitis kronik (RSK) atau sering disebut sinusitis kronik didefinisikan sebagai gangguan yang terjadi akibat peradangan dan infeksi mukosa sinus paranasalis dan mukosa hidung yang telah terjadi perubahan mukosa yang reversible maupun irreversible dengan berbagai etiologi dan faktor predisposisi dan sedikitnya berlangsung lebih dari 12 minggu 1,2,3
RSK masih merupakan tantangan dan masalah dalam praktek umum maupun spesialis. Hal ini mengingat anatomi, etiologi serta penanganannya yang bersifat kompleks. Kekerapan rinosinusitis cukup bervariasi. Di Eropa, RSK diperkirakan 10%-30% populasi 4 Di Amerika tahun 1998 RSK diperkirakan 16% dari populasi dewasa.5 Sucipto (1995) yang melakukan penelitian di RSCM, RSK merupakan 2,8% dari seluruh kunjungan poliklinik 6 Di RS Dr Karyadi Semarang, Suyitno (1996) melaporkan RSK sebagai 2,6% dari keseluruhan kunjungan poliklinik 7 Di RS Dr Sardjito Yogjakarta selama tahun 2000 – 2006 frekuensi penderita RSK 2,5%-4,6% 8
Secara garis besar penatalaksaan RSK terbagi 2, konservatif dan operatif. Penatalaksanaan operatif RSK meliputi bedah konvensional maupun bedah sinus endoskopi, bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF). Penatalaksanaan dengan bedah konvensional seperti antrostomi, Caldwell-Luc, etmoidektomi intranasal kadang-kadang menimbulkan jaringan parut pada bekas lubang yang dibuat selain pada lubang fungsional akan mengakibatkan fokus infeksi baru pada sinus. Seluruh mukosa sinus dapat ikut terangkat saat operasi sehingga seluruh silia akan terbuang. Hal ini justru menimbulkan masalah baru berupa hilangnya fungsi drainase akibat hilangnya silia 9
Pengembangan teknik operasi untuk sinus terus dikembangkan terutama bedah sinus endoskopi (BSE) maupun bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF). Bedah sinus menggunakan endoskopi, lapangan pandang operasi dan pengontrolan tindakan bedah dapat dilakukan dengan lebih baik dan pembuangan jaringan yang berlebihan dapat dihindari. Menurut Lanza et al. (1997) keuntungan bedah endoskopi dibandingkan bedah konvensional adalah tidak ada luka pada kulit dan tulang, trauma intranasal dan intrasinus kecil, trauma daerah resesus frontalis dapat dicegah, anatomi daerah hidung dapat terlihat dengan jelas serta mencegah kerusakan membrana mukosa untuk pemeliharaan mucociliary clearance normal10.
Rinosinusitis kronis dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup akibat gejala lokal seperti sakit kepala, sekresi hidung dan sumbatan hidung, gangguan penghidu, kesulitan tidur dan juga akibat keluhan kelemahan badan secara umum 11 RSK akan mengakibatkan penurunan produktifitas dan kehilangan hari kerja yang banyak, 73 juta hari kerja sekitar 3% hari kerja penduduk produktif 12. RSK dengan polip nasi secara signifikan akan menurunkan kualitas hidup akibat obstruksi dan iritasi hidung, gangguan penghidu, kesulitan tidur dan gejala pilek persisten 11. Biaya pengobatan rinosinusitis juga tergolong mahal. Di Amerika tahun 1996, untuk pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan rinosinusitis mengeluarkan biaya sebesar 5,8 milyar dollar. Dari angka tersebut, 58,7% (sekitar 3,5 milyar dollar) berkaitan dengan RSK 13
Penilaian penatalaksanaan RSK menyangkut kualitas hidup menjadi sangat penting. Pengukuran kualitas hidup terhadap RSK terus dikembangkan, ditandai banyak alat ukur yang telah divalidasi, antara lain kuisioner kualitas hidup rinokonjungtivitis, rinosinusitis outcome measure, sinonasal outcome test 20 (SNOT-20), chronic rinosinusitis survey (CRS) dan rinosinusitis disability index (RSDI) 14
Penggunaan SNOT (Sinonasal Outcome Test) 20 sebagai alat ukur kualitas hidup pada RSK telah dilakukan secara luas, dikembangkan dari RSOM 31 untuk kemudahan penggunaan dan penilaian. SNOT 20 berisisi 20 item pertanyaan yang menyangkut gejala dan dampak sosial emosional rinosinusitis. Dari hasil validasi yang telah dilakukan SNOT 20 memiliki konsitensi internal baik (Cronbach alpha = 0,90), tes re-tes reliabilitas menunjukkan tingkat korelasi tinggi antara 2 dan 4 minggu dengan p 0,001), terjadi perubahan skor 13,8 dengan CI 95% (9,6 – 18,1) dan rerata respon standard (SRM) 1,4. Ada perbedaan bermakna antara masing-masing gejala sebelum dan sesudah pembedahan. Dari penelitian ini disimpulkan adenoidektomi atau bedah sinus endoskopi fungsional memperbaiki kualitas hidup anak dengan RSK.18
Penelitian yang dilakukan penulis berbeda dengan penelitian-penelitian diatas, karena meneliti kualitas hidup penderita RSK yang dilakukan terapi bedah sinus endoskopi dibanding dengan yang dilakukan bedah konvensional dengan menggunakan alat ukur Sinonasal Outcome Test (SNOT) 20. Atas hal tersebut penelitian ini dilakukan untuk menentukan perbedaan kualitas hidup penderita rinosinusitis kronik yang dilakukan bedah sinus endoskopi dibanding dengan yang dilakukan bedah konvensional.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan analytic cross sectional untuk menentukan perbedaan kualitas hidup penderita rinosinusitis kronik yang dilakukan bedah sinus endoskopi dibandingkan yang dilakukan bedah konvensional. Populasi target penelitian ini adalah penderita rinosinusitis kronik. Populasi terjangkau adalah penderita rinosinusitis kronik yang sembuh setelah dilakukan terapi bedah sinus endoskopi maupun yang dilakukan bedah konvensional. Kriteria inklusi penderita rinosinusitis kronik baik dengan polip nasi maupun tanpa polip nasi yang telah dilakukan terapi bedah satu kali, minimal 6 bulan, secara klinis sudah dinyatakan sembuh, bersedia mengikuti penelitian dengan menjawab pertanyaan dalam kuesioner SNOT 20. Kriteria eksklusi jika terdiagnosis sebagai keganasan di hidung dan sinus paranasalis, status rekam medis tidak lengkap.
Besar sampel dihitung dengan rumus untuk uji hipotesis beda mean menurut Lemeshow et al. (1990) dengan α= 0,05, dan β=0,20, hipotesis satu sisi karena dianggap terapi bedah konvensional mempuyai skor SNOT 20 yang lebih tinggi dibanding terapi bedah sinus endoskopi.19 Dari hasil perhitungan sampel didapatkan hasil 30,89. Pada penelitian ini dari perhitungan sampel untuk membuktikan hipotesis di butuhkan N = 31 sampel untuk masing-masing kelompok
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tindakan bedah yang dibedakan menjadi (a) bedah konvensional yang meliputi antrostomi, polipektomi, Caldwell luc, etmoidektomi intranasal (b) Bedah sinus endoskopi.Variabel tergantung adalah kualitas hidup. Kualitas hidup diukur menggunakan SNOT 20 yang dialih bahasakan ke bahasa Indonesia, berupa skor kualitas hidup dengan skala Likert yang ditansformasi ke skala kontinyu. Skor tertinggi SNOT 20 adalah 60 dan skor terendah 0. Ditentukan rerata skor SNOT 20. Variabel yang dapat mempengaruhi variabel tergantung dalam penelitian ini antara lain jenis kelamin, umur, ada tidaknya polip nasi, jenis polip nasi, derajat polip nasi, luas penyakit, riwayat alergi. Jenis kelamin, terdiri 1) Pria, 2) Wanita. Umur dibedakan menjadi beberapa kelompok umur, yaitu 1) kurang dari 15 tahun 2) 16-25 tahun, 3) 26-35 tahun, 4) 36-45 tahun, 5) 46-55 tahun 6) diatas 55 tahun. Ada tidaknya polip nasi dibedakan 1) RSK dengan polip nasi/polip nasi (+), 2) RSK tanpa polip nasi/polip nasi (-).Derajat luasnya polip nasi dibedakan 1) Tanpa polip nasi,apabila tidak terdapat polip nasi, 2) Derajat 1 apabila ditemukan polip nasi terbatas pada meatus media, 3) Derajat 2 apabila ditemukan polip nasi sudah keluar dari meatus media tetapi belum menyebabkan obstruksi kavum nasi, 4) Derajat 3 apabila ditemukan polip nasi sudah keluar dari meatus media dan menyebabkan obstruksi kavum nasi. Luas penyakit didasarkan pada hasil CT scan sinus paranasalis menurut Glicklich (1994) yang dibagi menjadi 5 tingkat, 1) Derajat 0 apabila terdapat penebalan mukosa kurang dari 2 mm di sembarang sinus; 2) Derajat 1 apabila ditemukan kelainan unilateral, 3) Derajat 2 apabila terjadi kelainan bilateral pada sinus ethmoidalis atau sinus maksilaris saja; 4) Derajat 3 apabila kelainan pada sinus ethmoidalis dan sinus maksilaris dan salah satu diantara sinus sphenoidalis atau sinus frontalis; 5) Derajat 4 apabila semua sinus paranasalis terdapat kelainan 20. Ada tidaknya riwayat alergi dibedakan 1) Riwayat alergi positif/(+) yang berarti subyek menderita rinitis alergi, 2) Riwayat alergi negatif/(-) yang berarti subyek tidak menderita rinitis alergi.
Analisis χ2 digunakan untuk menghitung perbedaan proporsi variabel (skala nominal yaitu jenis kelamin,ada tidaknya polip nasi, jenis polip nasi,ada tidaknya riwayat alergi) menurut kelompok terapi. Uji χ2 Mantel-Haenszel digunakan untuk menganalisis variabel (skala ordinal yaitu umur, derajat polip nasi,luasnya penyakit) menurut kelompok terapi. Uji t tidak berpasangan untuk menguji perbedaan rerata skor kualitas hidup antara kelompok penderita RSK yang dilakukan bedah konvensional dengan kelompok bedah sinus endoskop. Selanjutnya dilakukan sub analisis variabel dengan kualitas hidup. Untuk menganalisis variabel yang mempengaruhi kualitas hidup dilakukan analisis regresi logistik.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilakukan mulai Maret 2007 sampai dengan Maret 2008. Subyek terdiri dari 37 laki-laki, 25 perempuan dengan umur tertua 71 tahun, termuda 13 tahun dengan rerata umur 37,40±17,30. Karakteristik subyek pada kedua kelompok dapat dilihat pada tabel 1. Berdasarkan karakteristik subyek pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok terapi. (p>0.05).

Tabel 1. Karakteristik subyek menurut kelompok terapi
Kel Konvensional
N(%) Kel BSE
N(%) Total (%) Nilai p
Jenis kelamin Laki-laki 19 (61,3) 18 (58,1) 37 (59,7)
Perempuan 12 (38,7) 13 (41,9) 25 (40,3) 0,796*
Umur 55 5 (16,1) 4 (12,9) 9 (14,5)
Ada tidaknya Polip nasi (+) 22 (71,0) 17 (54,8) 39 (62,9)
Polip nasi Polip nasi (-) 9 (29,0) 14 (45,2) 23 (37,1) 0,189*
Jenis polip Unilateral 10 (45,5) 11 (64,7) 21 (53,8) 0,232*
nasi Bilateral 12 (54,5) 6 (35,3) 18 (46,2)
Derajat polip Tanpa polip 9 (29,0) 14 (45,2) 23 (37,1)
nasi Derajat 1 1 (3,2) 0 (0,0) 1 (1,6) 0,181**
Derajat 2 8 (25,8) 11 (35,5) 19 (30,65)
Derajat 3 13 (41,9) 6 (19,3) 19 (30,65)
Luas penyakit Derajat 0 0 (0,0) 0 (0,0) 0 (0,0)
Derajat 1 10 (32,3) 17 (54,8) 27 (43,5)
Derajat 2 12 (38,7) 6 (19,4) 18 (29,0) 0,186**
Derajat 3 8 (25,8) 8 (25,8) 16 (25,8)
Derajat 4 1 (3,2) 0 (0,0) 1 (1,6)
Riwayat alergi R.alergi (+) 19 (61,3) 21 (67,7) 40 (64,5) 0,613*
R.alergi (-) 12 (38,7) 10 (32,3) 22 (35,5)
* Uji χ2

** Uji χ2 Mantel-Haenzel

Pengukuran kualitas hidup dilakukan minimum enam bulan pasca pembedahan dengan menggunakan SNOT 20. Kualitas hidup kelompok konvensional maupun kelompok BSE pasca terapi bedah mempunyai skor item-item yang yang seimbang seperti pada tabel 2.
Berdasarkan data dan perhitungan statistik kelompok konvensional secara keseluruhan mempunyai rerata skor kualitas hidup yang lebih rendah (17,4194±11,2213) dibandingkan rerata skor kelompok BSE 18,8387±8,5794, tetapi tidak menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik (p>0,05) untuk keseluruhan item seperti pada tabel 8. Pada item 13 tentang tidur tidak nyenyak terdapat perbedaan bermakna secara statistik antara kelompok konvensional (rerata skor 0,61 ± 0,80) dan kelompok BSE (rerata skor 1,03 ± 0,84) dengan perbedaan rerata skor 0,42 dengan p=0,049.
Tabel 2. Perbandingan rerata skor masing-masing item SNOT 20 menurut kelompok terapi.

SNOT 20 Kel Konvensional
(rerata + SD) Kel BSE
(rerata + SD) Perbedaan rerata p*
1. Usaha mengeluarkan ingus 1,23 ± 0,92 1,03 ± 0,80 0,19 0,379
2. Bersin-bersin 0.94 ± 0,73 1,13 ± 0,67 0,19 0,280
3. Ingus encer di hidung 1,19 ± 0,98 1,16 ± 0,90 0,02 0,893
4. Batuk-batuk 0,81 ± 0,87 1,10 ± 0,87 0,29 0,195
5. Lendir di tenggorokan 1,19 ± 0,98 1,48 ± 0,89 0,29 0,227
6. Ingus kental di hidung 1,23 ± 0,99 1,06 ± 0,77 0,16 0,477
7. Telinga tersumbat 0,81 ± 0,79 0,94 ± 0,89 0,13 0,549
8. Pusing, nggliyer 0,94 ± 1.03 1,03 ± 1,02 0,02 0,711
9. Nyeri daerah telinga 0,61 ± 0,80 0,61 ± 0,72 0,00 1.000
10. Nyeri daerah wajah 1,19 ± 1,08 0,90 ± 0,87 0,29 0,248
11. Susah tidur 0,71 ± 0,86 0,90 ± 0,83 0,19 0,372
12. Terbangun malam hari 0,58 ± 0,89 0,84 ± 0,86 0,26 0,249
13. Tidur tidak nyenyak 0,61 ± 0,80 1,03 ± 0,84 0,42 0,049
14. Lelah saat bangun tidur 0,84 ± 0,78 1,10 ± 0,79 0,26 0,200
15. Badan terasa lelah 1,00 ± 0,77 1,10 ± 0,87 0,02 0,645
16. Tidak bisa bekerja 0,61 ± 0,72 0,68 ± 0,75 0,02 0,730
17. Tidak bisa memu-satkan perhatian 0,90 ± 0,87 0,81 ± 0,75 0,02 0,611
18. Perasaan putus asa 0,71 ± 0,82 0,77 ± 0,80 0,02 0,756
19. Perasaan sedih,susah 0,81 ± 0,79 0,81 ± 0,75 0,00 1,000
20. Perasaan malu,rendah diri 0,52 ± 0,85 0,35 ± 0,55 0,16 0,379
* Uji t tidak berpasangan.
Berdasarkan data dan perhitungan statistik skor SNOT 20 paling kecil adalah 2,0 dan paling besar 45,0 dengan rerata skor 18,1290 ± 9,9317. Apabila diasumsikan rerata skor 18 sebagai batas perhitungan untuk menentukan kualitas hidup maka didapatkan kualitas hidup baik jika rerata skor SNOT 20 kurang dari 18 dan kualitas hidup jelek jika rerata skor SNOT 20 lebih atau sama dengan 18. Kualitas hidup menurut jenis variabel dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Kualitas hidup menurut jenis variabel
Variabel Kualitas hidup Total Nilai p
Baik Jelek
Jenis Laki-laki 21 (58,3) 16 (61,5) 37 (59,7)
kelamin Perempuan 15 (41,7) 10 (38,5) 25 (40,3) 0,800*
Umur 55 9 (25,0) 0 (0,0) 9 (14,5)
Ada tidak Polip nasi (+) 24 (66.7) 15 (57,7) 39 (62,9) 0,470*
nya polip Polip nasi (-) 12 (33,3) 11 (42,3) 23 (37,1)
Jenis Unilateral 14 (58,3) 7 (46,7) 21 (53,8)
polip Bilateral 10 (41,7) 8 (53,3) 18 (46,2) 0,477*
Derajat Tanpa polip 12 (33,3) 11 (42,3) 23 (37,0)
Polip Derajat 1 0 (0,0) 1 (3,9) 1 (1,6) 0,483**
nasi Derajat 2 12 (33,3) 7 (26,9) 19 (30,7)
Derajat 3 12 (33,3) 7 (26,9) 19 (30,7)
Luas Derajat 0 0 (0,0) 0 (0,0) 0 (0,0)
penyakit Derajat 1 17 (47,2) 10 (38,5) 27 (43,5)
Derajat 2 10 (27,8) 8 (30,8) 18 (29,0) 0.633**
Derajat 3 9 (25,0) 7 (26,9) 16 (25,8)
Derajat 4 0 (0,0) 1 (3.8) 1 (1,6)
Riwayat R.Alergi (+) 16 (44,4) 24 (92,3) 40 (64,5)
alergi R.Alergi (-) 20 (55,6) 2 (7,7) 22 (35,5) 0,001*
Kel Terapi Konvensional 20 (55,6) 11 (42,3) 31 (50,0)
BSE 16 (44,4) 15 (57,7) 31 (50,0) 0,303*

* Uji χ2 ; ** Uji χ2 Mantel-Haenzel
Berdasarkan pada tabel 3 di atas terlihat tidak ada perbedaan bermakna kualitas hidup menurut jenis kelamin (p= 0,800), umur (p= 0,095), ada tidaknya polip nasi (p=0,470), jenis polip nasi (p=0,477), derajat polip nasi (p=0,483) dan menurut luas penyakit (p=0,633) dan jenis terapi (p=0,303) . Ada perbedaan bermakna kualitas hidup penderita RSK pasca terapi bedah menurut riwayat alergi (p= 0,001).
Apabila dilakukan subanalisis pada masing-masing kelompok terapi terhadap riwayat alergi, maka kualitas hidup pada masing-masing kelompok dapat terlihat sebagai berikut :
a). Kualitas hidup kelompok BSE menurut riwayat alergi
Berdasarkan hasil perhitungan statistik didapatkan rasio prevalensi riwayat alergi terhadap kualitas hidup pada kelompok BSE adalah 8,36 (95% KI 1,14-77,47). Dari penelitian ini terdapat perbedaan bermakna kualitas hidup antara penderita dengan riwayat alergi dibanding tanpa alergi pada kelompok BSE p=0,013. Dengan demikian dapat disimpulkan pada kelompok BSE, riwayat alergi (+) merupakan faktor risiko untuk kualitas hidup jelek (tabel 4).
Tabel 4. Kualitas hidup kelompok terapi BSE menurut riwayat alergi
Riwayat alergi Kualitas hidup Nilai p*
Jelek Baik
R.Alergi (+) 13(86,7) 7(43,8) 0,013
R.Alergi (-) 2(13,3) 9(56,2)
Total 15(100) 16(100)
* Uji χ2

b). Kualitas hidup kelompok konvensional menurut riwayat alergi
Berdasarkan hasil perhitungan statistik didapatkan rasio prevalensi riwayat alergi terhadap kualitas hidup pada kelompok konvensional adalah 12,2 (95% KI 1,9 – tak terhingga) . Dari penelitian ini terdapat perbedaan bermakna kualitas hidup antara penderita dengan riwayat alergi dibanding tanpa alergi pada kelompok konvensional p=0,002. Dengan demikian dapat disimpulkan pada kelompok konvensional, riwayat alergi (+) merupakan faktor resiko untuk kualitas hidup jelek (tabel 5).

Tabel 5. Kualitas hidup kelompok terapi konvensional menurut riwayat alergi
Riwayat alergi Kualitas hidup Nilai p*
Jelek Baik
R.Alergi (+) 11,5(95,8) 9,5(45,2)
R.Alergi (-) 0,5(4,2) 11,5(54,8) 0,002
Total 11(100) 20(100)
* Uji χ2
Dari tabel 4 dan 5 diatas terlihat bahwa pada kelompok konvensional dengan riwayat alergi (+) mempunyai risiko untuk mendapatkan kualitas hidup jelek lebih besar dengan rasio prevalensi 12,2 (95% KI 1,9 – tak terhingga) dibandingkan kelompok BSE dengan riwayat alergi (+) dengan rasio prevalensi 8,36 (95% KI 1,14-77,47). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh karena pada bedah konvensional risiko kerusakan jaringan dan pembuangan jaringan sehat lebih besar, timbulnya jaringan parut lebih besar, pemulihan mucociliary clearance lebih sedikit sehingga fungsi drainase lebih jelek.
Apabila dilakukan subanalisis kembali pada masing-masing kelompok riwayat alergi terhadap kualitas hidup, maka kualitas hidup pada masing-masing kelompok dapat terlihat sebagai berikut :

c). Kualitas hidup menurut riwayat alergi (+) pada masing-masing kelompok terapi
Berdasarkan hasil perhitungan statistik didapatkan bahwa pada sampel dengan riwayat alergi (+) antara kelompok BSE dan konvensional tidak didapatkan perbedaan bermakna (p=0,519) dengan rasio prevalensi 1,18 (95% KI 0,709-1,969)
Tabel 6. Kualitas hidup menurut riwayat alergi (+)
Riwayat alergi (+) Kualitas hidup Nilai p*
Jelek Baik
Kel BSE 13(54,2) 7(43,8) 0,519
Kel Konvensional 11(45,8) 9(56,2)
Total 24(100) 16(100)
* Uji χ2

d). Kualitas hidup menurut riwayat alergi (-) pada masing-masing kelompok terapi
Berdasarkan hasil perhitungan statistik didapatkan bahwa pada sampel tanpa riwayat alergi antara kelompok BSE dan konvensional juga tidak didapatkan perbedaan bermakna (p=0,138) dengan rasio prevalensi 2,2 (95% KI 0,23 – tak terhingga) (tabel 7).
Tabel 7. Kualitas hidup menurut riwayat alergi (-)
Riwayat alergi (-) Kualitas hidup Nilai p*
Jelek Baik
Kel BSE 2,5(83,3) 9,5(45,2) 0,138
Kel Konvensional 0,5(16,7) 11,5((54,8)
Total 2(100) 20(100)
* Uji χ2
Untuk menganalisis variabel yang mempengaruhi kualitas hidup dilakukan analisis regresi logistik. Hasil analisis regresi logistik dapat dilihat pada tabel 8 dibawah ini . Hasil analisis regresi logistik didapatkan bahwa variabel yang berpengaruh bermakna terhadap kualitas hidup adalah riwayat alergi (p=0,033, adjusted odd ratio 29,433; 95% KI 1,318-657,202) dan umur (p=0,032. adjusted odd ratio 8,030; 95% KI 1,197-53,886). Variabel jenis terapi tidak mempunyai pengaruh bermakna terhadap kualitas hidup. Dengan demikian tidak ada perbedaan bermakna kualitas hidup berdasarkan SNOT 20 antara yang dilakukan terapi bedah sinus endoskopi dibandingkan dengan yang dilakukan bedah konvensional.
Tabel 8. Hasil analisis regresi logistik pengaruh variabel terhadap kualitas hidup
Variabel (β) Nilai p Adjusted Odd ratio KI 95 %
Riwayat alergi 3,382 0,033 29,433 1,318657,202
Umur 2,083 0,032 8,030 1.197-53.886
Jenis kelamin 3,023 0,081 20,562 0.691-611,679
Ada tidaknya polip nasi 1,428 0,918 0,120 0,689-25,209
Jenis polip nasi -,340 0,806 0,712 0.047-10,766
Derajat polip nasi 1,112 0,315 3,041 0,347-26,668
Luas penyakit – 432 0,123 0,239 0,039-1,476
Jenis terapi 3,193 0,095 24,358 0.574-1034,074

Pada penelitian ini hipotesis yang diajukan ditolak. Ada beberapa kemungkinan sebab antara lain, metode pengukuran kualitas hidup sebagai variabel tergantung hanya dilaksanakan sekali sesudah terapi bedah, sehingga perubahan kualitas hidup masing-masing kelompok tidak dapat diketahui. Hasilnya kemungkinan akan berbeda jika pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah terapi bedah, sehingga perubahan kualitas hidup sebelum dan sesudah terapi bedah dapat diketahui, baik kelompok konvensional maupun kelompok BSE. Guyat dan Jaeschke (1990) menyarankan pengukuran kualitas hidup dilakukan sebelum terapi, pertengahan saat dilakukan program terapi, akhir dari program terapi atau titik waktu tertentu seperti 1,3,6,12,24 bulan.21
Pada penelitian ini pemberian obat-obatan sebelum maupun sesudah terapi bedah tidak bisa dikendalikan . Obat-obatan merupakan variabel luar yang dapat mempengaruhi kualitas hidup subyek. Obat-obatan ini meliputi antibiotika, steroid lokal maupun sistemik, dekongestan, antihistamin maupun obat-obatan lain yang di minum oleh subyek.
Variasi operator pada penelitian ini juga tidak bisa dikendalikan. Variasi operator merupakan variabel luar yang dapat mempengaruhi variabel bebas (bedah sinus endoskopi,bedah konvensional). Variasi operator disini meliputi operatornya sendiri yang terdiri ahli THT (spesialis THT) dan residen THT, ketrampilan dan pengalaman operator.
Ketidaktaatan pasien dan keseragaman waktu kontrol menyebabkan kesulitan untuk mengevaluasi hasil pengobatan, karena sebagian besar pasien tidak kontrol kembali jika keluhan berkurang atau tidak ada keluhan serta alasan ekonomi. Evaluasi dan follow up pasca terapi bedah pada penderita RSK sangat diperlukan untuk menentukan saat keberhasilan terapi dan kemungkinan komplikasi yang terjadi.
Penanganan faktor risiko seperti rinitis alergi pada penderita rinosinusitis kronik pasca terapi bedah sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan terapi bedah. Belum optimalnya penanganan alergi pasca terapi bedah menyebabkan penderita RSK dengan rinitis alergi mempunyai kualitas hidup lebih jelek dibandingkan penderita RSK tanpa rinitis alergi.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu penelitian longitudinal (kohort prospective) untuk mengetahui kualitas hidup penderita RSK pasca terapi bedah, dengan mempertimbangkan beberapa variabel yang dapat mempengaruhi kualitas hidup, antara lain penggunaan obat,waktu follow up, variasi operator dan faktor risiko.
KESIMPULAN
Kesimpulan pada penelitian ini tidak ada perbedaan kualitas hidup berdasarkan SNOT 20 penderita rinosinusitis kronik yang dilakukan terapi bedah sinus endoskopi dibandingkan dengan yang dilakukan bedah konvensional.
SARAN
Perlu penanganan faktor alergi secara holistik pada penderita RSK pasca terapi bedah dan penelitian longitudinal (kohort prospective) dengan mempertimbangkan variabel-variabel yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pada pasien RSK pasca terapi bedah, seperti penggunaan obat-obatan,waktu follow up, variasi operator dan faktor risiko.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hilger PA. Penyakit sinus paranasalis. Dalam : Boies buku ajar penyakit THT; Effendi H editor. 6th eds. EGC, Jakarta 1997.
2. Benninger MS, Poole M, Ponikau J. Adult chronic rhinosinusitis: definitions, diagnosis, epidemiology, and pathophysiology. Otolaryngol Head Neck Surg (supl) 2003;129S: S1-S32
3.Lanza DC. Diagnosis of chronic rhinosinusitis. Annals of otorhinolaryngology;2004; 18: 10-14.
4. Osguthorpe JD. Adult rhinosinusitis : diagnosis and management .American Family Physician, 2001;1-8
5. Anand VK, Epidemiologic and economic impact of rinosinusitis. Ann Otol Rhinol Laryngol ;2004;113
6. Sucipto D.. Temuan sinuskopi pada pasien sinusitis maksilaris kronis. Kongres Nasional Perhati XI. Jogjakarta;1995 :179-189
7. Suyitno S. Sinusitis maksila pada anak di RSUP DR. Kariadi Semarang. Kumpulan makalah Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) PERHATI-KL. Malang.1996;788-798.
8. RSUP Dr. Sardjito.. Data rekam medis RSUP Dr Sardjito Jogjakarta. 2007
9. Mangunkusumo E, & Rifki N. Sinusitis. Dalam Soepardi EA dan Iskandar NI (eds). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Kepala dan Leher. 5th ed FKUI, Jakarta. 2001:120-124.
10. Lanza DC, & Kennedy DW. Adult rhinosinusitis defined. Report of the rhinosinusitis task force comitee meeting. Otolaryngol Head Neck Surg (supl) . 1997;117:4-5.
11. Browne JP, Hopkins C, Slack R ,Topham J, Reeves B. Health related quality of life after polypectomy with and without additional Surgery. Laryngoscope. 2006. 116:297–302.
12. Cauwenberge PV, & Watelet JB. Epidemiology of chronic rhinosinusitis. Thorax 55 (Suppl 2), 2000: S20–S21.
13. Campbell GD. Pathophysiology of rhinosinusitis. In : Adult chronic sinusitis and its complication. Pulmonary and critical update (PCCU) 2004;16:20-27
14. Leopold D,Ferguson BJ, Piccirillo JF. Outcomes assessment.Otolaryngol Head Neck Surg (supl), 1997;117 ; S58-S68
15. Piccirillo JF, Merritt MG, Richards ML.Psychometric and clinimetric validity of the 20 item sino nasal outcome test (SNOT-20). Otolaryngol Head Neck Surg.2002;126:41-7.
16. Deal RT, Stilianos E, Kountakis SE.Significance of nasal polyps in chronic rhinosinusitis: Symptoms and surgical outcomes .Laryngoscope, 2004;114:1932–193
17. Salhab M, Matai V, Salam MA. The Impact of functional endoscopic sinus surgery on health status. Rhinology, 2004;42:98-102.
18. Rudnick EF, & Mitchell RB. Improvement in quality of life in children after surgical therapy for sinonasal disease.Otolaryngol Head Neck Surg.2006;134:737-740.
19. Lameshow S, Hosmer Jr, DW, Klar J, Lwanga SK. Besar sampel dalam penelitian kesehatan (terjemahan). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 1990.
20. Gliklich R, & Metson R. A comparison of sinus computed tomography (CT) staging systems for outcomes research. Am J Rhinol.1994;8:291–297
21. Guyatt GH, and Jaeschke R. Measurement in clinical trials: choosing the appropriate Approach. In: Spilker (editor) Quality of life assessment in clinical trials. Raven Press, Ltd. New York.. 1990

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: