VARIASI ANATOMI PADA RINOSINUSITIS MAKSILARIS KRONIK DI RSUP Dr. SARDJITO

VARIASI ANATOMI PADA RINOSINUSITIS MAKSILARIS KRONIK DI RSUP Dr. SARDJITO
(Juni 2007 – Desember 2007)

Budi Santoso*, Anton Christanto*, Muslim Kasim*, Luh Putu Lusy Indrawati*, Kartono Sudarman*, Hesti Gunarti**,

* Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL FK – UGM / RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
** Dosen Instalasi Radiologi FK – UGM / RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

ABSTRAK

Latar belakang : Rinosinusitis maksilaris kronik adalah peradangan mukosa sinus maksilaris, terjadi perubahan histologik mukosa sinus, yakni fibrosis dan metaplasi squamosa, berlangsung lebih dari 12 minggu. Salah satu penyebab utama rinosinusitis adalah gangguan patensi kompleks osteomeatal. Variasi anatomi : sel Haller , septum deviasi , konka bullosa, pembesaran bula ethmoid, konka media paradoks, mempengaruhi patensi kompleks osteomeatal.
Tujuan penelitian : Mengetahui variasi anatomi pada penderita rinosinusitis maksilaris kronik
Metode penelitian : Desain penelitian deskriptif. Sampel adalah Penderita rinosinusitis kronik yang berobat di poliklinik THT RSUP dr. Sardjito antara Juni 2007-Desember 2007, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kecurigaan rinosinusitis kronik, sesuai kriteria Task-Force the American Academy of Otolaryngologic Allergy (AAOA) dan American Rhinologic Society (ARS) tahun 1996. Diagnosis rinosinusitis maksilaris kronik ditegakkan dari CT-Scan potongan coronal dengan interval slice 3mm yang kemudian dinilai variasi anatominya.
Hasil penelitian : Sampel penelitian: 52 sinus maksilaris , karakteristik sampel : laki-laki : 26(50%), perempuan : 26(50%), rerata umur : 41,52 ± 7,12 tahun. 57.69% rinosinusitis maksilaris kronik memiliki variasi anatomi dan 62% mempunyai gejala rinitis alergi. Frekuensi variasi anatomi pada rinosinusitis maksilaris kronik adalah : sel Haller : 29(55,77%) , septum deviasi : 27(51,92%) , konka bulosa : 22(42,31%), pembesaran bula ethmoid 16(30,77%), konka media paradoksal : 6(11,54%)

Kesimpulan : Variasi anatomi terbanyak pada rinosinusitis maksilaris kronik adalah sel Haller 29(55,77%).

Kata kunci : Rinosinusitis maksilaris kronik, variasi anatomi, CT scan

VARIASI ANATOMI PADA RINOSINUSITIS MAKSILARIS KRONIK
DI RSUP Dr. SARDJITO
(Juni 2007 – Desember 2007)

Budi Santoso*, Anton Christanto*, Muslim Kasim*, Luh Putu Lusy Indrawati*, Kartono Sudarman*, Hesti Gunarti**,

* Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL FK – UGM / RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
** Dosen Instalasi Radiologi FK – UGM / RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

PENDAHULUAN
Rinosinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal.1 Istilah rinosinusitis lebih tepat dibandingkan sinusitis karena jarang sinusitis tanpa didahului rhinitis dan tanpa melibatkan inflamasi pada mukosa hidung.2 Rinosinusitis maksilaris kronik adalah peradangan sinus maksilaris yang telah menimbulkan perubahan histologik pada mukosa, yakni fibrosis dan metaplasi squamosa. 2, regenerasi, metaplasia, jaringan parut 7. Dikatakan kronik bila telah berlangsung sekurangnya dalam 12 minggu. 1,9,10
Patofisiologi penyakit sinusitis terkait 3 faktor : patensi ostium, fungsi silia dan kualitas sekret. 1 Penyakit sinus termasuk sinus maksilaris pada awalnya adanya kelainan kompleks osteomeatal 1,4. Penyebab rhinosinusitis : lokal : infeksi gigi, trauma, obstruksi mekanik seperti septum deviasi, edema. sistemik: malnutrisi, terapi steroid jangka lama, diabet tidak terkontrol, diskrasia darah, defisiensi imun. 1
Variasi anatomi seperti : sel Haller, septum deviasi, konka bullosa diduga menjadi faktor predisposisi terhadap kejadian rinosinusitis maksilaris kronik. Variasi anatomi tersebut dapat menyebabkan obstruksi terhadap kompleks osteomeatal (KOM) dan mengganggu pembersihan mukosilia sehingga memungkinkan terjadinya sinusitis maksilaris. 1,3 Gangguan kompleks osteomeatal akibat kelainan anatomi pada rongga hidung dan sinus paranasal ada 3 hipotesis: 1. mekanik, 2. aerodinamis, 3. gangguan ventilasi sinonasal.6
CT scan merupakan metode yang baik untuk evaluasi struktur anatomi sinus paranasal seperti: kondisi kompleks osteomeatal, kelainan anatomi, visualisasi ada atau tidaknya jaringan patologis di sinus, dan perluasannya .1,3,12
Dua et al. melaporkan variasi anatomi pada rinosinusitis kronik, Konka bullosa : 16%, Konka media paradoks:10%, Processus uncinatus bengkok : 6%, Overpneumatised ethmoid bulla:14%, Haller cell: 16%, Agger nasi : 40%, Onodi cell: 6% 12 minggu atau dalam setahun > 4x serangan.1
3. Pemeriksaan CT-Scan terdiagnosis rinosinusitis maksilaris kronik
4. Bersedia ikut penelitian
Kriteria Eksklusi
1. Ada caries dentis/infeksi dari rahang atas gigi molar 1,2,3 premolar 1,2
2. Terdiagnosis tumor sinonasal
3. Riwayat trauma wajah/pipi yang merusak struktur tulang
4. Pernah menjalani operasi sinonasal
5. Mengkonsumsi antibiotik 1-2 minggu Variasi anatomi : 3,4
6. Penderita diabetes mellitus.
G. Definisi operasional pada penelitian ini:
1. Sel Haller (Infraorbital recess cell)
Haller cell biasanya berada dibawah orbita, pada atap sinus maxillaris.Merupakan pneumatisasi selula ethmoidalis yang diproyeksikan sepanjang atap medial sinus maxilaris.
2. Pembesaran bula ethmoid
Pertumbuhan berlebihan dan pneumatisasi dapat mengganggu ventilasi dan drainase sinus. Bulla ethmoid yang sangat besar dapat dapat menutup infundibulum dan meatus media.
3. Konka bulosa
Pneumatisasi konka media
4. Septum deviasi
Deformitas sekat hidung yang dapat terjadi pada bagian tulang, tulang rawan atau keduanya yang membuat sekat hidung tampak tidak lurus sehingga rongga hidung disatu sisi lebih luas daripada sisi lainnya.
7. Konka media paradoks
Konka media yang arahnya terbalik. Kurvatura mayor dari konka media yang terproyeksi secara lateral, hingga menyebabkan penyempitan meatus media.
8. Gejala Rinitis alergi
Pada penelitian ini gejala rhinitis alergi ditegakkan berdasarkan anamnesis, bila terdapat 2 atau lebih gejala : bersin-bersin >5x setiap serangan, hidung dan mata gatal, ingus encer >1 jam dan hidung tersumbat, maka dinyatakan positif alergi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan mucosa cavum nasi livid, allergic salute, allergic shiners.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Jumlah sample yang didapatkan pada penelitian ini adalah 52 buah sinus maksilaris, dimana jumlah laki laki dan perempuan sama. (table 1). Dari gambaran CT Scan, 52 sinus maksilaris tersebut menunjukkan adanya sinusitis maksilaris. Sedangkan rerata umur (mean) dari sample penelitian adalah 41,52 ± 7,12 tahun.
Tabel 1: Jenis kelamin

Pada penelitian ini didapatkan bahwa dari 52 sinus maksilaris yang terdiagnosis rinosinusitis maksilaris kronik ternyata (30) 57,69%-nya memiliki gambaran variasi anatomi pada CT scannya. Sisanya (22) 42.30% tidak memiliki gambaran variasi anatomi pada CT Scannya. (Tabel 2)

Tabel 2. Variasi anatomi dan tidak

CT scan yang menunjukkan adanya rinosinusitis maksilaris kronik diamati macam variasi anatominya bersama dokter spesialis radiologi. Frekuensi variasi anatomi pada rinosinusitis maksilaris kronik adalah sebagai berikut sel Haller 29(55,77%) , septum deviasi 27(51,92%), konka bulosa 22(42,31 %), pembesaran bula ethmoid 16(30,77 %), konka media paradoks 6(11,54%). (table 3).
Tabel 3 . Frekuensi variasi anatomi pada sinusitis maksilaris.

Hubungan alergi pada rinosinusitis sangat erat. Pada penelitian ini didapatkan 32 (62%) sinus maksilaris yang sinusitis memiliki gejala rinitis alergi. Sedangkan sisanya 20 (38%) tidak memiliki gejala alergi.(lihat tabel 4)

Tabel 4. Sampel penelitian yang mempunyai gejala rinitis alergi dan non alergi

Besarnya faktor alergi (62%) dan faktor variasi anatomi (57,69%) yang hampir sama pada rinosinusitis maksilaris kronik, membuktikan bahwa kedua faktor tersebut diduga saling mempengaruhi sebagai faktor predisposisi terjadinya rinosinusitis maksilaris kronik. Mengingat penatalaksanaan yang berbeda pada kedua faktor tersebut diatas maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut (yang lebih baik dari penelitian ini dengan mempertimbangkan jumlah/besar sampel maupun desain penelitian) untuk membuktikan hubungan alergi dan variasi anatomi dengan rinosinusitis maksilaris kronik.

KESIMPULAN
57.69% rinosinusitis maksilaris kronik memiliki variasi anatomi dan 62% mempunyai gejala rinitis alergi. Variasi anatomi terbanyak pada rinosinusitis maksilaris kronik dalam penelitian ini adalah Sel Haller 55,77%.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pinheiro AD, Facer, GW, Kern EB. Rhonosinusitis : current concept and management in Bailey Head and neck surgery-otolaryngology 3 rd edition, 2003. pp:346-369.
2. Beninger MS. Adult chronic rhinosinusitis; definition, diagnosis, epidemiology, patofisiology. Otolaryngol head and neck surg.2003;129S:S1-S32.
3. Dua K, et al . CT scan variation in chronic sinusitis. Ind J radiol imag 2005;15:3:315- 320.
4. Zinreich S.J, Gotwald T. Radiograhic anatomy of the sinuses in The Paranasal sinus disease, 1994 pp:13-27.
5. American Academy of Otolaryngology-Head and Neck surgery report of the Rhinosinusitis Task Force Commitee. Otolaryngol Head Neck Surg. 1997;117:S1-S68.
6. Gray RF. Synopsis of otolaryngology 5 th edition, Butterworth Heinemann Singapore, 1994. pp:288-304.
7. Peter H.. Penyakit sinus paranasal dalam Boeis buku ajar penyakit THT edisi 7, 1997, hal : 246-257.
8. Bhargava, KB, Bhargava SK, Shah, TM. Sinusitis in A short text book of ENT disease. Usha publication, 2002, pp: 186-189.
9. Lee, KJ. The nose and paranasal sinuses in Essential of otolaryngology head and neck surgery. Mc Graw-Hill, 2003, pp:697-702.
10. Salamone FN& Tami TA. Acute and chronic sinusitis in Current diagnosis and treatment in Otolarymgology Head and Neck Surgery 1st edition. MC Graw Hill Singapore, 2004, pp:285-292.
11. Rifki N. Sinusitis dalam Iskandar N dkk. Buku ajar penyakit THT. Balai Penerbit FK-UI. Jakarta, 1990. hal:122-129.
12. Lanza DC & Kennedy DW. Adult rhinosinusitis defined. Otolaryngol Head and Neck Surg, 1997, pp:117: 1-7.
13.Lanza DC. Diagnosis of chronic rhinosinusitis. Ann Otol Rhinol Laryngol. 2004;113:10-14.
14. Mangunkusumo. Fisiologi hidung dan paranasal dalam Iskandar N. Buku ajar Ilmu Penyakit THT. Balai Penerbit FK-UI. Jakarta, 1990, hal: 85-87.
15. Puhakka et al. Validity of ultrasonografy in diagnosis of acute maxillary sinusitis. Arc otolaryngol head and neck surg. 2005;126:1482-1486.
16. Khun FA. Role of endoscopy in the management of chronic rhinosinusitis. Ann Rhinol Laryngol. 2004;113:10-14.
17. Dolor RJ, Wlliams JW. Management of rhinosinusitis in Adult. Clinical application of recent evidence and treatment recommendation. JCOM. 2001;9:463-477.
18. Muhaimeed, Hashab. Osteomeatal complex in normal adult. J Otol Rhino Laryngol . 2002;64:43-447.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: