KONKA BULOSA SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN RINOSINUSITIS MAKSILARIS KRONIK

KONKA BULOSA SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN RINOSINUSITIS MAKSILARIS KRONIK

Muslim Kasim*, Mahatma S Bawono*, Anton Christanto*, L P Lusy Indrawati*, Kartono Sudarman*, Hesti Gunarti**

*Bagian THT-KL Fakultas Kedokteran UGM / RS Dr. Sardjito Yogyakarta
**Instalasi radiologi FK UGM / RS Sardjito Jogjakarta

Abstrak

Latar Belakang : Konka bulosa adalah konka media terpneumatisasi dan dapat menyebabkan obstruksi ostium sinus masksilaris dan gangguan patensi kompleks ostiomeatal (KOM), sedangkan dari beberapa literature dikatakan penyebab utama dan terpenting dari rinosinusitis maksilaris kronik adalah obstruksi ostium sinus masksilaris dan gangguan patensi KOM. Apakah konka bulosa berperan sebagai faktor risiko untuk terjadinya rhinosinusitis maksilaris kronis masih merupakan pertanyaan. Demikian pula masih menjadi perdebatan tentang kapan suatu konka bulosa memerlukan koreksi.

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah konka bulosa berperan sebagai faktor resiko kejadian rinosinusitis maksilaris.

Metode penelitian : Kasus-kontrol.

Hasil : Dari 50 pasien didapatkan 100 sampel yang terdiri atas 52 kasus RSMK dan 48 kontrol. Ditemukan 22 konka bulosa pada kelompok kasus dan 12 pada kontrol (OR : 2,2 , CI 95%, nilai p 0,068).Pada kelompok kasus didapatkan konka bulosa tipe lamellar 57% (13), tipe true 37% (8), tipe bullous 6% (1). Untuk hasil CBPI, pada kelompok kasus didapatkan CBPI dengan ukuran rata rata 6.82±2.532 dan pada kelompok kontrol didapatkan CBPI dengan ukuran rata rata 4.3667+1.256(lihat table 4). Dengan uji statistik anova, ternyata nilai ukuran CBPI mempunyai perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok p>0.05

Kesimpulan : Konka bulosa merupakan faktor resiko terjadinya rinosinusitis maksilaris kronik (OR 2.20). Tipe konka bulosa tidak mempunyai makna klinis yang berkaitan dengan rinosinusitis maksilaris kronik. Nilai CBPI merupakan faktor penting pada rinosinusitis maksilaris kronik, dimana apabila nilai CBPI > 6.82 maka diperlukan tindakan operatif.

Kata kunci : Konka bulosa, Rhinosinusitis maksilaris kronis, faktor resiko

KONKA BULOSA SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN RINOSINUSITIS MAKSILARIS KRONIK

Muslim Kasim*, Mahatma S Bawono*, Anton Christanto*, L P Lusy Indrawati*, Kartono Sudarman*, Hesti Gunarti**

*Bagian THT-KL Fakultas Kedokteran UGM / RS Dr. Sardjito Yogyakarta
**Instalasi radiologi FK UGM / RS Sardjito Jogjakarta

PENDAHULUAN

Konka bulosa merupakan pneumatisasi pada konka nasal, dapat terjadi pada semua konka (inferior,media dan superior), terutama terjadi pada konka media karena yang tersering terpapar turbulensi udara.1 Pneumatisasi pada konka ini merupakan salah satu variasi anatomi sinonasal yang paling sering terjadi. Frekuensi konka bulosa telah dilaporkan oleh berbagai penelitian sebesar 14-53%.2-3
Bolger et al. telah mengklasifikasikan pneumatisasi konka bulosa berdasarkan lokasinya menjadi 3 : Lamellar, bulbous, dan extensif (true).4 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa CB mungkin memiliki peran dalam etiologi sinusitis, dan beberapa penelitian lain menunjukkan hasil sebaliknya.1-5
Rinosinusitis didefinisikan sebagai gangguan akibat inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal. Rinosinusitis dikatakan kronik apabila telah berlangsung sekurangnya dalam 12 minggu.6,7 Sinusitis maksilaris kronik adalah sinusitis maksilaris yang telah menimbulkan perubahan histologik pada mukosa sinus maksila, yakni fibrosis dan metaplasi squamosa.8,9
Rinosinusitis Kronik (RSK) menjadi masalah bagi dokter umum dan ahli THT mengingat anatomi dan etiologi yang kompleks. Kelainan secara anatomi menjadi faktor predisposisi terhadap kejadian rinosinusitis. Kelainan/variasi anatomi menyebabkan efek obstruksi kerhadap kompleks osteomeatal (KOM) dan menggangu clearance mukosilia sehingga memungkinkan terjadinya sinusitis. Konka bulosa merupakan salah satu variasi anatomi yang sering ditemukan pada penderita rinosinusitis kronik. Ketika dua permukaan mukosa bertemu karena bengkak atau gangguan secara anatomi, transpor mukosilia terhambat di daerah yang terjadi kontak.10-11
Adanya variasi anatomi ini diduga berpengaruh terhadap patensi KOM yang dapat menimbulkan rinosinusitis maksilaris. Penelitian Muhaimeed et al. menyebutkan bahwa patensi osteomeatal ditentukan oleh lebar ostium sinus maksilaris, processus uncinatus, bulla ethmoid, konka media, dan lebar meatus media.12 Sejauh mana struktur anatomi hidung, terutama konka bulosa berpengaruh terhadap kejadian rinosinusitis maksilaris kronik perlu diketahui untuk menjadi salah satu panduan dalam menentukan rencana terapinya. Kami harapkan penelitian ini nantinya akan bisa ikut membantu mengembangkan manajemen penyakit sinusitis terutama dalam menentukan kapan suatu konka bulosa memerlukan tindakan bedah.

METODE

Penelitian ini menggunakan metode kasus kontrol yang dilakukan terhadap 50 orang pasien dengan kriteria klinis sinusitis. Kriteria inklusi meliputi pasien dengan persangkaan rinosinusitis menurut kriteria task force EPOS, keluhan sudah berlangsung lebih dari 12 minggu, bersedia mengikuti penelitian, gambaran CT-scan menunjukkan sinusitis maksilaris (+) bagi kelompok kasus dan CT-scan sinusitis maksilaris (-) bagi kelompok kontrol. Kriteria eksklusi meliputi adanya caries dentis pada gigi molar 1,2,3 dan premolar 1,2 rahang atas, terdiagnosa tumor sinonasal, pernah menjalani operasi sinonasal, mengkonsumsi antibiotik 1-2 minggu sebelumnya, dan rekam medik tidak lengkap.
Analisa statistik menggunakan Chi-Square (analisis univariabel/bivariat) konka bulosa untuk mendapatkan odd ratio dengan interval kepercayaan 95% dan anova.
Konka bulosa diklasifikasikan sesuai klasifikasi bolger et al4 , dan semua pneumatisasi konka pada CT Scan dihitung luasnya dalam milimeter bujursangkar, dan dibandingkan dengan luas area orbita pada slide yang sama untuk menstandarisasi pneumatisasi yang ada (gbr 1). Hasil penghitungan ini disebut sebagai concha bullosa pneumatization index (CBPI) dan penghitungan dilakukan untuk semua gambaran konka bulosa pada CT Scan.

Gambar 1. Penghitungan area orbita dan pneumatisasi konka bulosa menggunakan kertas milimeter
CBPI = area pneumatisasi konka (mm2) x 100
area orbita disisi yang sama (mm2)

HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Karakteristik subyek penelitian
Karakteristik Kelompok Kasus Kelompok Kontrol Uji Statistik Nilai p
52 48
n (%) n (%)
Jenis Kelamin
• Laki laki 26 (50%) 22 (45.83) 0.174 0.677
• Wanita 26 (50%) 26 (54.16)

Umur (rata rata) 41,52 ± 7,12 38.85±9.14 2.669 0.106

Tabel 2. Odds Ratio Konka Bulosa pada RSK Maksilaris
Faktor risiko Kasus Kontrol OR 95%CI p
52 48
(n) (n)
• Konka Bulosa
Ada (+) 22 12 2.20 0.94-5.17 0.068
Tidak Ada (-) 30 36

Tabel 3. Type konka bulosa
Type konka bulosa Kasus Kontrol Uji Statistik p
22 12
n ( %) n (%)
Lamellar 13 (59,09) 7 (58,3) 0.03 0.986
True 4 (18,18) 2 (16,6)
Bulbous 5 (22,72) 3 (25)

Tabel 4. Distribusi Concha Bullosa Pneumatization Index (CBPI)
Besar CBPI Kasus Kontrol Uji Statistik p
22 12
Mean (SD) Mean (SD)
6.82±2.532 4.3667±1.256 9.83 0.004

DISKUSI
Pada penelitian ini dengan kriteria task force didapatkan 50 penderita tersangka Rinosinusitis Maksilaris Kronik dan setelah dilakukan CT Scan potongan coronal Sinus Paranasalis (SPN) dengan interval slice 3mm didapatkan 52 sinus maksilaris yang mengalami sisusitis dan 48 sinus maksilaris dalam keadaan normal. 52 sinus maksilaris dengan CT Scan sinusitis dimasukkan dalam kelompok kasus dan 48 sinus maksilaris yang normal dimasukkan dalam kelompok kontrol. Kedua kelompok tersebut kemudian dianalisis.
Kedua kelompok yaitu kelompok kasus dan kelompok kontrol tersebut diatas merupakan kelompok yang homogen. Hal tersebut tampak pada jenis kelamin dan umur dari kedua kelompok setelah diuji statistik mempunyai nilai p > 0.05 (tidak bermakna). (Lihat tabel 1)
Konka bulosa pada rinosinusitis maksilaris kronik merupakan suatu faktor resiko kejadian rinosinusitis maksilaris. Dengan analisa stastik Chi square didapatkan angka Odds Ratio 2.20. Hal ini membuktikan bahwa konka bulosa akan meningkatkan kejadian rinosinusitis maksilaris kronik sebesar 2.2 kali dibandingkan yang tidak memiliki konka bulosa/normal. (Lihat tabel 2)
Ada 3 tipe konka bulosa yaitu lamelar, true dan bulbous. Pada masing masing kelompok, baik kelompok kasus dan kelompok kontrol didapatkan ketiga tipe tersebut dengan angka frekuensi yang tercantum dalam tabel 3. Tipe lamelar paling banyak didapatkan. Setelah diuji statistik ternyata tipe konka bulosa di kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0.05). Hal tersebut menunjukkan bahwa tipe konka bulosa tidak berpengaruh terhadap angka kejadian rinosinusitis maksilaris
CBPI (Concha Bullosa Pneumatization Index) merupakan alat ukur untuk mengetahui besarnya konka bulosa. CBPI dapat diukur dengan Dengan rumus rasio luas konka bulosa dengan luas area orbita. Pada kelompok kasus didapatkan CBPI dengan ukuran rata rata 6.82±2.532 dan pada kelompok kontrol didapatkan CBPI dengan ukuran rata rata 4.3667+1.256(lihat table 4). Dengan uji statistik anova, ternyata nilai ukuran CBPI mempunyai perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok p 6.82, akan bisa menyebabkan terjadinya rinosinusitis maksilaris kronik sehingga memerlukan tindakan operatif.

KESIMPULAN
Konka bulosa merupakan faktor resiko terjadinya rinosinusitis maksilaris kronik (OR 2.20). Tipe konka bulosa tidak mempunyai makna klinis yang berkaitan dengan rinosinusitis maksilaris kronik. Nilai CBPI merupakan faktor penting pada rinosinusitis maksilaris kronik, dimana apabila nilai CBPI > 6.82 maka diperlukan tindakan operatif.

Daftar pustaka

1. Uygur K, Tuz M, The correlation between septal deviation and concha bullosa, Otolaryngol Head Neck Surg 2003;129:33-36.
2. Stammemberger H. Functional Endoscopic Sinus Surgery. Philadelphia: B. C. Decker, 1991; 161-169.
3. Hatipoglu H, Cetin MA, Yuksel E, Concha bullosa types: their relationship with sinusitis, ostiomeatal and frontal recess disease, Diagn Intervent Radiol, 2005;11:145-149.
4. Bolger WE, Butzin CA, Parsons DS. Paranasal sinus bony anatomic variations and mucosal abnormalities: CT analysis for endoscopic sinus surgery. Laryngoscope 1991; 101:56-64.
5. Lidov M, Som PM. Inflammatory disease involving a concha bullosa (enlarged pneumatized middle nasal turbinate): MR and CT appearance. AJNR Am J Neuroradiol 1990; 11:999-1001.
6. Benninger MS, Poole M, Ponikau J. 2003. Adult chronic rhinosinusitis : definitions, diagnosis, epidemiology, and pathophysiology. Otolaryngol Head Neck Surg (supl) 129S: S1-S32.
7. Lanza DC. 2004. Diagnosis of chronic rhinosinusitis. Ann Otol Rhinol Laringol 113 : 10-14.
8. Wright D. Chronic sinusitis In Ballantyne J. and Groves J. (Eds) Scott Brown’s Disease of the ear Nose and Throat. 3rd ed Edition, section Rhinology London, Butterworths 1979:273-313.
9. Ballenger JJ. Non surgical treatment of sinus infections. In: Ballenger JJ (Eds). Diseases of the nose, throat, ear,head and neck. 13th ed. Philadelphia 1985, 218– 97.
10. Collet S, Bertrand B, Cornu S. 2001. Is septal deviation a risk factor for chronic sinusitis? Review of literature. Acta Otorhinolaryngol Belg; 55: 299 –304.
11. Elahi MM, Frenkiel S. 2000. Septal deviation and chronic sinus disease. Am J Rhinol; 14:175–9.
12. Muhaimeed HA, Hashashb Y, Hashasha SM. 2002. Ostiomeatal Complex in Normal Semitic Adults. J ORL; 64: 443–447

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: